Antara Upah dan Jerih Payah: Dinamika Pekerja Perempuan di Indonesia

Dalam Global Wage Report ILO 2018, ketidaksetaraan upah antargender (gender wage gap) dunia meningkat dari angka 16% di tahun 2017 menjadi 19% pada 2018. 1. Di Indonesia sendiri, dalam penelitian Better Work Indonesia 2018, rata-rata pekerja perempuan diupah 20% lebih sedikit dari pekerja laki-laki 2

Meski demikian, dalam penelitian firma Korn Ferry pada beberapa negara di kawasan Asia, Indonesia mulai menunjukkan tren yang positif menuju kesetaraan upah kerja. Kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki pada jabatan yang sama di perusahaan mulai mengecil, terlebih ketika pekerja-pekerja tersebut berasal dari perusahaan yang sama menunjukkan perubahan angka yang signifikan hingga tersisa 5.3%.3

Kesenjangan upah antargender sayangnya bukan satu-satunya problema yang dihadapi pekerja perempuan di Indonesia. Dalam penelitian Korn Ferry pun dinyatakan bahwa perempuan masih lebih jarang ditemukan di posisi tinggi perusahaan, sehingga menyebabkan angka upah rata-rata perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Selain karena perempuan ditempatkan di posisi pekerjaan yang levelnya rendah, temuan Better Work Indonesia pun menyebutkan bahwa perempuan Indonesia masih secara mayoritas mendominasi pekerjaan sektor informal—menginjak angka 57,51% dari angka keseluruhan pekerja perempuan—sehingga hal ini mempengaruhi indeks upah rata-rata perempuan nasional.4

Berbicara lebih jauh mengenai pekerjaan informal, pekerjaan-pekerjaan seperti menjadi buruh tani, pencuci di binatu, dan pembatu rumah tangga ini biasanya tidak dilengkapi dengan kontrak kerja resmi. Ketiadaan keterikatan kontrak antara majikan dan pekerja menyebabkan pekerja perempuan mendapat upah yang tidak setimpal dengan usaha yang telah ia kerjakan. Perjanjian kerja pun lebih berpotensi untuk dieksploitasi oleh majikan yang mempekerjakan—mulai dari mengurangi upah, meniadakan jatah libur, hingga kasus ekstrem melakukan kekerasan pada pekerja informal atas dasar pendisiplinan dan pemberian hukuman.

Selain itu, pekerjaan informal yang sarat dengan kemampuan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga menjaga anak merupakan pekerjaan kasar yang kental dengan stereotipe bahwa “semua perempuan bisa melakukannya”. Hal ini menyebabkan pekerja perempuan informal lebih mudah dicari di pasaran, dan menyebabkan harga upahnya menurun. Sekalinya dipekerjakan, akibat banyaknya tenaga kerja di pasaran, majikan pun memiliki kuasa lebih untuk memecat pekerja yang tidak sesuai dengan standar kerja dan dengan mudah mencari pengganti lain melalui biro pekerja.

Ketiadaan kontrak yang jelas juga menyebabkan pekerja perempuan di ranah informal tidak mendapatkan jaminan sosial seperti yang diwajibkan dalam sektor pekerjaan formal. Jaminan sosial ini contohnya dapat berupa jaminan kesehatan dan tunjangan kesejahteraan. Kebanyakan pekerja informal pun tidak paham akan hak-hak pekerja yang telah dirumuskan pemerintah dalam UU Ketenagakerjaan, mendorong tingkat kerentanan pekerja perempuan yang tinggi atas ketidakadilan, ketidakselamatan, hingga eksploitasi di tempat kerja.

Saatnya untuk tidak diam saja. Demi pemberdayaan pekerja perempuan Indonesia, TEDxMlatiWomen mengajakmu untuk #ReWRITETheRules bersama kami, termasuk dalam hal mengeradikasi ketidaksetaraan kesempatan yang mengeksploitasi pekerja perempuan. Apakah kamu siap?

Nantikan kabar kami selanjutnya:

  • Find us on

This event is open to the public

Coming Soon

Contact Info

Address

Yogyakarta

Phone

+62 812-3993-3167 (Tania)